Halaman Kritik dan Saran
Kritik dan Saran
Halaman RSS
Subscribe
Halaman Facebook
Facebook
Halaman Twitter
Twitter
Halaman Google +
Google +
Pasang Iklan I Hubungi Saya I Profile I Fans Page I DisClaimer I SiteMap
Powered by Blogger.
Showing posts with label Cerita. Show all posts
Showing posts with label Cerita. Show all posts

Bintang Paling Bersinar

Unknown on Friday, June 22, 2012 | 3:26 AM

Apakah perpisahan itu benar-benar ada? Akankah datang untuk mengampiriku? Aku harap tidak! Aku tak mengerti apa arti hidupku dengan datangnya perpisahan.


Kenalin, ini sekolah gue, SMA Purnama Sakti. Gue bangga sekolah disini. Karena disini, gue bisa kenal sama yang namanya persabatan, persaingan, terlebih lagi tentang cinta. Gue duduk di kelas xi, tepatnya xi a 2. Ya, emang lagi masa labil-labilnya. Lagi masa-masanya ego gue tinggi. Ya, biasalah kalau lagi masa labil semuanya juga pasti sama kayak gue. Lo juga gitu kan kawan? Masa dimana kita itu pasti lagi penasaran sama yang namanya cinta. Walaupun cinta itu nyakitin, bikin nangis, bikin kita ga mau makan, ga mau minum, ga bisa tidur. Pokoknya cinta itu bisa bikin kita gila. Tapi, ya gitulah namanya cinta. Selalu mengundang tanda tanya yang sama sekali ga ada jawabannya. 

***

Seudah gue ngenalin diri gue dan sedikit persepsi gue tentang cinta, sekarang ganti topik. Oke, kenalin ini temen gue yang lebih tepatnya adalah sahabat gue. Sahabat yang bener-bener sahabat. Ia selalu ada setiap gue butuh, ga kenal lelah buat bantu gue. Malah gue udah anggep dia sebagai sodara gue sendiri. Kebersamaan itu mungkin sekarang telah berubah menjadi persaan yang mungkin ga mungkin buat gue ungkapin ke dia. Tapi yang pasti, dia selama-lamanya bakal menjadi separuh kepingan hati gue, Andi namanya. Sobat, gue tau gue ga bakalan mungkin ngungkapin persaan gue ke dia. Pertama karena dia udah gue anggap sahabat, kedua karena gue itu cewek yang ga berani buat ngungkapin perasaan gue. Jadi, gue berusaha bersikap sewajar-wajarnya ke dia. Tapi sayang, belakangan ini dia sring memilih untuk menghindar dari gue

“Andi..” Panggil gue setengah berteiak. Andi membalikan badannya tepat ke arah namanya terdengar. Gue berlari ngedeketin Andi.

“Lo sombong ya sekarang. Udah ga mau maen lagi ke rumah gue. Ga mau ngerjain PR bareng gue lagi. Lo kenapa sih? Gue punya salah sama lo?” Tanya gue heran.

Andi hanya tersenyum dengan pertanyaan-pertanyan gue. Dari situ, gue mulai lebih ga ngerti lagi dengan apa yang terjadi pada Andi. Lalu gue pasang muka sebal. Tapi Andi malah nyubit pipi gue dengan keras sampai pipi gue sakit. Setelah itu dia ga ngomong apa-apa lagi. Dia malah pergi ninggalin gue tanpa sepatah katapun. Gue berniat untuk memanggilnya kembali tapi gue urungkan niat gue dan membiarkannya untuk pergi ninggalin gue. Mungkin dia ada sedikit problem yang ga bisa diceritain ke gue untuk pertama kalinya. 

Gue pulang ke rumah sendiri. Biasanya gue kemana-mana bareng sama dia. Pokoknya dia selalu bilang kalau dia ga mau liat gue sedih, nangis dan kecewa. Tapi, kenapa sekarang dia bikin gue kecewa dengan sikapnya yang aneh dan ga bisa gue artiin. Kemana Andi yang selama ini selalu lindungin gue? Bahkan nganggap gue sebagai adiknya, bukan seseorang yang ada di hatinya. Tapi ga apa, itu juga udah lebih dari cukup biar gue pendam sendiri dan tetap diam dalam kebisuan gue akan perasaan gue. 

Sehari, dua hari, tiga hari, seminggu, sebulan, dan gue ga kuat kalau harus jalanin hidup gue tanpa dia. Walaupun hanya sekedar kakak, tapi itu sangatlah berarti. Gue coba menghubungi no handphonenya, tapi tak kujung dia angkat. Lalu gue beranikan diri untuk menghubungi no telepon rumahnya.

“Hallo” terdengar suara lembut tante Marissa yang tak lain adalah mama dari Andi

“Hallo, Tante. Ini Clara.” Jawabku

“Oh, ada apa Clara?”

“Em, Andinya ada Tante?” 

Pertanyaan barusan yang gue lontarkan menimbulkan detik-detik menjadi kosong. Suasana hening, seakan Tante Marissa bingung dan tak menmpunyai jawaban untuk pertanyaan gue barusan.

“An, Andi?”

“Iya Tante, ada ga?”

“Ga ada sayang, tadi dia bilang mau keluar.”

“Oh, ya udah deh Tan, makasih ya Tante. Nanti kalau dia pulang tolong sampein aja kalau aku sempet nelpon ya. Makasih Tante..”

“Sama-sama”

Tut..tut..

Lalu sambungan telepon itu terputus. Terlintas di pikiran gue lagi tentang perilaku Andi dan juga Tante Marissa yang mulai memberikan perlakuan beda terhadap gue. 

Gue berjalan dengan langkah yang tergesa-gesa menuju kamar gue. Tepat di depan cermin, gue memutuskan untuk memandangi diri gue sendiri dan me-review perilaku-perilaku gue dari mulai gue kenal sama Andi dari dulu sampe sekarang. Gue emang sering jail, tapi ga kelewat batas. Gue juga sering ngomong ceplas-ceplos ke dia tapi dia juga suka nanggapinnya dengan santai dan tak pernah terlihat ada sedikitpun dendam maupun amarahnya terhadap gue selama ini. Lalu, apa yang membuat dia menjadi seperti ini? Tuhan, ini sangat membatinkan..

***

Sekarang gue berpikir, lebih baik hidup tanpa Andi daripada harus dicuekin kayak begini, cuma bikin gue makan hati aja. Sekarang gue pergi kemana-mana sendiri, ga perduli Andi ada atau engga. Di mata gue sekarang Andi udah musnah, Andi bukan Andi yang gue kenal dulu. Dan gue janji, gue ga bakalan perduli lagi dengan apapun tentang dia. Seperti dia yang udah ngehindarin gue selama ini dan membuang rasa perdulinya pada gue. Dan gue bakalan lakuin hal yang sama.

“Clara, liat deh itu ada apa? Kok pada rame gitu ya?” Tanya Anita, temen gue saat gue dan dia melewati lapangan.

“Ga tau, dan gue udah ga mau tau” ucap gue waktu itu.

“Lo, kenapa sih? Kok jadi berubah drastis gini! Lo gila ya?”

“Lo tau kenapa gue jadi seperti ini? Lo liat dong, Andi yang sebegitu perhatiannya sama gue, sekarang malah ngehindarin gue dan ga perduli lagi sama gue. Dan itu artinya buat apa gue merduliin orang lain, kalau nyatanya orang lain juga perdulinya cuma sesaat sama gue!”

Anita mengerutkan matanya, lalu dia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ya udahlah, urusan lo!” Ucapnya lalu pergi ninggalin gue.

Gue ga mendekat. Yang sebenernya gue juga penasaran dengan apa yang terjadi ditengah kerubungan. Hingga akhirnya gue memutuskan untuk pulang. Sesekali gue nengok ke arah sana, gue liat orang yang tadi dikerubungin digotong oleh siswa laki-laki ke dalam mobil. Sepertinya akan dibawa ke rumah sakit.

***

“Claraaaaaa...” Panggil mama gue dari bawah.

“Iya maaa..” Jawab gue dengan nada malas karena masih ngantuk.

“Sini sayang, pentiiiing.”

“Ada apa sih ma?” Tanya gue penasaran. Dengan berat hati gue turun dari lantai 2 menuju lantai dasar.

“Sayang, jaga rumah ya.”

“Hah? Cuma gitu doang kok, kata mama penting.” Protes gue.

“Iya lah penting. Mama mau ngejenguk dulu Andi di rumah sakit. Kamu kan pasti udah sering kesana. Gimana perkembangannya?”

DEG.. Jantung gue seakan terhenti. Apa yang mama bilang? Andi di rumah sakit? Dia kenapa? Gue ga pernah ngejenguk, gue bahkan ga tau kalau Andi ada di rumah sakit.gue harus gimana? Apa yang harus gue bilang sama mama.

***

Di saat waktu kosong, gue nyempetin dan beraniin diri gue buat datang ke rumah sakit.

“Kenapa lo datang Ra?” 

Anita ngelirik sinis sama gue. “Oh iya, lo mau ngejenguk siapa Ra? Apa ada yang harus lo jenguk? Atau lo mau ngejenguk seseorang yang menurut lo ga merduliin lo?” Tanyanya dengan nada yang sangatlah super sinis.

“Sebegitu bencinya lo sama gue? Sampai nada bicara lo sinis kaya gitu?” Tanya gue dengan air mata yang siap meluncur.

Anita berdiri dari bangku ruang tunggu. “ Harusnya lo nanya ke diri lo sendiri. Sebegitu bencinya lo sama orang yang jelas-jelas merduliin lo?” Lalu dia pergi ninggalin gue.

Gue melangkah menuju ruangan dimana Andi dirawat.

Tok.. Tok.. Tok..

“Masuk” terdengar suara Tante Marissa yang sepertinya sedang menangis meratapi anaknya. Gue membuka pintu dengan perlahan. Mengartikan apa yang sebenarnya terjadi.

“Tan.. Tante..” Gue menunduk dan mendekati Tante Marissa lalu gue memeluknya.

“Maaf Tan,” ucap gue dengan tangis yang bisa gue tahan.

“Tante yang harusnya minta maaf. Tante tau, sikap tante sama Andi pasti bikin kamu kecewa. Tapi Andi terlalu sayang sama kamu sampai dia ga mau kamu tau tentang keadaan dia sekarang.” Ucap Tante Marissa. Mata gue berbinar, menetes dan terus menetes. Mengharapkan kejelasan tentang apa yang Tante Marissa bilang ke gue. 

“Andi berpenyakit Clara, kamu dapat lihat sendiri dengan tak berdayanya Andi membiarkan tubuhnya terkapar. Dia selalu ingin melindungimu, tetapi dia tak bisa melindungi dirinya sendiri. Belakangan ini dia sering jatuh pingsan, otaknya terasa terlalu berat. Tapi dia hanya bisa menyembunyikan semua itu di hadapanmu. Dia ga mau liat kamu sedih, lebih baik melihat kamu membencinya daripada harus melihatmu untuk menangisinya.”

Gue terdiam sejenak. Mencerna apa yang diucapkan Tante Marissa. 

“Ja.. Jadi..” Mata gue terpejam perlahan. Semua kenangan manis diantara gue dan Andi ternodai oleh keegoisan gue. Suasana hening. Tiada kata-kata lagi dari mulut Tante Marissa. Ia pun tela terhenti dari tangisnya krena nafasnya telah terengah menahan kesakitan ini. Gue duduk di dekat Tante, lalu gue mendengar perut tante yang berbunyi. Sepertinya ia lapar, mungkin ia belum makan.

“Tante, aku mau keluar dulu sebentar.” Gue pamit buat keluar, yang sebenernya gue mau beli makanan buat Tante, sekalian buat gue juga.

15 menit kemudian..

Gue berjalan dengan pasti buat nyerahin makanan ini buat Tante Marissa yang udah laper.

BRAK.. Makanan yang gue bawa terjatuh dan berhamburan sudah saat gue melihat teriakan histeris Tante Marissa keluar ruangan dengan beberapa suster yang menggiring ranjang beroda. Setelah itu gue ga bisa liat apa-apa lagi. Mungkin mata gue udah buta karena gue ga kuat melihat kenyataan.

***

Mata gue terbuka perlahan, terasa semu bayangan bayangan yang gue liat. Beberapa detik kemudian gue sadar bahwa gue ga buta seperti yang gue kira waktu itu. Ternyata gue pingsan. Gue liat di samping gue ada Tante Marissa. Gue terbangun dan langsung memeluk Tante Marissa. Tante Marissa yang ga sadar kalau gue udah sadar langsung menghapus air matanya. 

“Tan, aku mau ke ruangan Andi.” Ucap gue lemas.

“Sudahlah, kamu ga akan bisa menyusulnya. Dia terlalu jauh untuk kamu susul” jawabnya lembut.

“Maksud Tante?” 

“Ayo kita pulang. Nanti akan tante ceritakan semuanya sama kamu. Tante juga akan meminta ijin pada orang tuamu agar kamu diperbolehkan menginap malam ini di rumah Tante.”

Lalu kami pun segera berkemas. Yang sebenernya gue penasaran banget dengan apa yang udah terjadi. Tapi, Tante Marissa ga mau nyeritin semuanya ke gue sekarang. Jadi mau ga mau gue bungkam.

***

“Claraaa..” Panggil Tante Marissa dari luar rumah. Gue yang lagi nonton televisi lalu berlari mendekat pada Tante Marissa.

“Sekarang, akan Tante penuhi janji tante. Tante akan menceritakan semuanya padamu. Ayo ikut tante.” Aku mengikuti langkah Tante. Lalu Tante mengajaku duduk di ayunan taman rumahnya. Ayunan yang dimana dulu gue sama Andi sering banget maen ayunan disitu dan berkejar-kejaran di taman itu.

Tante Marissa memecahkan keheningan malam itu. “Liat Clara, bintang itu bintang yang paling bersinar.” Gue melihat bintang yang ditunjuk Tante Marissa. Gue masih terdiam. “Jarak ke bintang itu pasti jauuuuh sekali.” Lanjutnya.

Gue hanya mengangguk. Sampai saat ini gue belum tau apa yang sebenrnya maksud yang dibilang sama Tante Marissa.

“Clara, kamu kangen sama Andi?” 

Deg, pertanyaan itu...

“Iya tante.” Jawabku singkat sambil menahan air mataku.

“Ini” lalu Tante Marissa menyodorkan sesuatu padaku.

Clara, sebelumnya gue mau minta maaf atas kelakuan gue yang bikin lo sedih, kecewa dan bikin lo benci sama gue. tapi percaya deh, gue ngelakuin ini karena gue pikir inilah jalan satu-satunya biar lo ga terlalu kaget dengan apa yang terjadi.

oh iya, di surat ini, gue Cuma mau nyampein sesuatu aja. kalau lo ngerasa kangen sama gue caranya gampang kok. lo tinggal pergi keluar rumah, lalu pandangin langit dan cari bintang yang paling bersinar. karena itulah gue. lo boleh sesuka hati mandangin gue, karena gue rela dipandangin setiap detik sama lo Ra J

dan satu hal lagi, sesuatu yang buat gue ga mau liat air mata lo jatuh karena satu hal. pertama gue sayang sama lo dan sayang itu berubah menjadi cinta.

hidup dengan baik demi gue ya Ra. J

Andi

Gue ngelirik Tante Marissa. Tante Marissa hanya tersenyum sembari menunjuk bintang yang paling terang. “Dia disana” ucapnya singkat.

Gue meluk tante Marissa. Gue sadar sekarang, ternyata Andi ngejauhin gue bukan karena apapun, tapi karena dia terlalu sayang sama gue sampe dia ga mau liat setetes pun air mata di pipi gue. 

Dear, Andi

Andi, walaupun lo udah ga ada di samping gue dan ga kan pernah bisa ngebuat gue benci lagi sama lo, tapi tetep ada rasa benci gue karena lo menjauh demi hal yang ga penting. Tapi sayang, rasa sayang gue ke lo ngalahin semua rasa benci dan kesalahan-kesalahan lo ke gue. Kini, gue yakin dan gue pastiin bahwa lo adalah Bintang Yang Paling Bersinar di hati gue.. Gumam gue dalam hati..

Apakah perpisahan itu benar-benar ada? Akankah datang untuk mengampiriku? Aku harap tidak! Aku tak mengerti apa arti hidupku dengan datangnya perpisahan.


Kenalin, ini sekolah gue, SMA Purnama Sakti. Gue bangga sekolah disini. Karena disini, gue bisa kenal sama yang namanya persabatan, persaingan, terlebih lagi tentang cinta. Gue duduk di kelas xi, tepatnya xi a 2. Ya, emang lagi masa labil-labilnya. Lagi masa-masanya ego gue tinggi. Ya, biasalah kalau lagi masa labil semuanya juga pasti sama kayak gue. Lo juga gitu kan kawan? Masa dimana kita itu pasti lagi penasaran sama yang namanya cinta. Walaupun cinta itu nyakitin, bikin nangis, bikin kita ga mau makan, ga mau minum, ga bisa tidur. Pokoknya cinta itu bisa bikin kita gila. Tapi, ya gitulah namanya cinta. Selalu mengundang tanda tanya yang sama sekali ga ada jawabannya. 

***

Seudah gue ngenalin diri gue dan sedikit persepsi gue tentang cinta, sekarang ganti topik. Oke, kenalin ini temen gue yang lebih tepatnya adalah sahabat gue. Sahabat yang bener-bener sahabat. Ia selalu ada setiap gue butuh, ga kenal lelah buat bantu gue. Malah gue udah anggep dia sebagai sodara gue sendiri. Kebersamaan itu mungkin sekarang telah berubah menjadi persaan yang mungkin ga mungkin buat gue ungkapin ke dia. Tapi yang pasti, dia selama-lamanya bakal menjadi separuh kepingan hati gue, Andi namanya. Sobat, gue tau gue ga bakalan mungkin ngungkapin persaan gue ke dia. Pertama karena dia udah gue anggap sahabat, kedua karena gue itu cewek yang ga berani buat ngungkapin perasaan gue. Jadi, gue berusaha bersikap sewajar-wajarnya ke dia. Tapi sayang, belakangan ini dia sring memilih untuk menghindar dari gue

“Andi..” Panggil gue setengah berteiak. Andi membalikan badannya tepat ke arah namanya terdengar. Gue berlari ngedeketin Andi.

“Lo sombong ya sekarang. Udah ga mau maen lagi ke rumah gue. Ga mau ngerjain PR bareng gue lagi. Lo kenapa sih? Gue punya salah sama lo?” Tanya gue heran.

Andi hanya tersenyum dengan pertanyaan-pertanyan gue. Dari situ, gue mulai lebih ga ngerti lagi dengan apa yang terjadi pada Andi. Lalu gue pasang muka sebal. Tapi Andi malah nyubit pipi gue dengan keras sampai pipi gue sakit. Setelah itu dia ga ngomong apa-apa lagi. Dia malah pergi ninggalin gue tanpa sepatah katapun. Gue berniat untuk memanggilnya kembali tapi gue urungkan niat gue dan membiarkannya untuk pergi ninggalin gue. Mungkin dia ada sedikit problem yang ga bisa diceritain ke gue untuk pertama kalinya. 

Gue pulang ke rumah sendiri. Biasanya gue kemana-mana bareng sama dia. Pokoknya dia selalu bilang kalau dia ga mau liat gue sedih, nangis dan kecewa. Tapi, kenapa sekarang dia bikin gue kecewa dengan sikapnya yang aneh dan ga bisa gue artiin. Kemana Andi yang selama ini selalu lindungin gue? Bahkan nganggap gue sebagai adiknya, bukan seseorang yang ada di hatinya. Tapi ga apa, itu juga udah lebih dari cukup biar gue pendam sendiri dan tetap diam dalam kebisuan gue akan perasaan gue. 

Sehari, dua hari, tiga hari, seminggu, sebulan, dan gue ga kuat kalau harus jalanin hidup gue tanpa dia. Walaupun hanya sekedar kakak, tapi itu sangatlah berarti. Gue coba menghubungi no handphonenya, tapi tak kujung dia angkat. Lalu gue beranikan diri untuk menghubungi no telepon rumahnya.

“Hallo” terdengar suara lembut tante Marissa yang tak lain adalah mama dari Andi

“Hallo, Tante. Ini Clara.” Jawabku

“Oh, ada apa Clara?”

“Em, Andinya ada Tante?” 

Pertanyaan barusan yang gue lontarkan menimbulkan detik-detik menjadi kosong. Suasana hening, seakan Tante Marissa bingung dan tak menmpunyai jawaban untuk pertanyaan gue barusan.

“An, Andi?”

“Iya Tante, ada ga?”

“Ga ada sayang, tadi dia bilang mau keluar.”

“Oh, ya udah deh Tan, makasih ya Tante. Nanti kalau dia pulang tolong sampein aja kalau aku sempet nelpon ya. Makasih Tante..”

“Sama-sama”

Tut..tut..

Lalu sambungan telepon itu terputus. Terlintas di pikiran gue lagi tentang perilaku Andi dan juga Tante Marissa yang mulai memberikan perlakuan beda terhadap gue. 

Gue berjalan dengan langkah yang tergesa-gesa menuju kamar gue. Tepat di depan cermin, gue memutuskan untuk memandangi diri gue sendiri dan me-review perilaku-perilaku gue dari mulai gue kenal sama Andi dari dulu sampe sekarang. Gue emang sering jail, tapi ga kelewat batas. Gue juga sering ngomong ceplas-ceplos ke dia tapi dia juga suka nanggapinnya dengan santai dan tak pernah terlihat ada sedikitpun dendam maupun amarahnya terhadap gue selama ini. Lalu, apa yang membuat dia menjadi seperti ini? Tuhan, ini sangat membatinkan..

***

Sekarang gue berpikir, lebih baik hidup tanpa Andi daripada harus dicuekin kayak begini, cuma bikin gue makan hati aja. Sekarang gue pergi kemana-mana sendiri, ga perduli Andi ada atau engga. Di mata gue sekarang Andi udah musnah, Andi bukan Andi yang gue kenal dulu. Dan gue janji, gue ga bakalan perduli lagi dengan apapun tentang dia. Seperti dia yang udah ngehindarin gue selama ini dan membuang rasa perdulinya pada gue. Dan gue bakalan lakuin hal yang sama.

“Clara, liat deh itu ada apa? Kok pada rame gitu ya?” Tanya Anita, temen gue saat gue dan dia melewati lapangan.

“Ga tau, dan gue udah ga mau tau” ucap gue waktu itu.

“Lo, kenapa sih? Kok jadi berubah drastis gini! Lo gila ya?”

“Lo tau kenapa gue jadi seperti ini? Lo liat dong, Andi yang sebegitu perhatiannya sama gue, sekarang malah ngehindarin gue dan ga perduli lagi sama gue. Dan itu artinya buat apa gue merduliin orang lain, kalau nyatanya orang lain juga perdulinya cuma sesaat sama gue!”

Anita mengerutkan matanya, lalu dia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ya udahlah, urusan lo!” Ucapnya lalu pergi ninggalin gue.

Gue ga mendekat. Yang sebenernya gue juga penasaran dengan apa yang terjadi ditengah kerubungan. Hingga akhirnya gue memutuskan untuk pulang. Sesekali gue nengok ke arah sana, gue liat orang yang tadi dikerubungin digotong oleh siswa laki-laki ke dalam mobil. Sepertinya akan dibawa ke rumah sakit.

***

“Claraaaaaa...” Panggil mama gue dari bawah.

“Iya maaa..” Jawab gue dengan nada malas karena masih ngantuk.

“Sini sayang, pentiiiing.”

“Ada apa sih ma?” Tanya gue penasaran. Dengan berat hati gue turun dari lantai 2 menuju lantai dasar.

“Sayang, jaga rumah ya.”

“Hah? Cuma gitu doang kok, kata mama penting.” Protes gue.

“Iya lah penting. Mama mau ngejenguk dulu Andi di rumah sakit. Kamu kan pasti udah sering kesana. Gimana perkembangannya?”

DEG.. Jantung gue seakan terhenti. Apa yang mama bilang? Andi di rumah sakit? Dia kenapa? Gue ga pernah ngejenguk, gue bahkan ga tau kalau Andi ada di rumah sakit.gue harus gimana? Apa yang harus gue bilang sama mama.

***

Di saat waktu kosong, gue nyempetin dan beraniin diri gue buat datang ke rumah sakit.

“Kenapa lo datang Ra?” 

Anita ngelirik sinis sama gue. “Oh iya, lo mau ngejenguk siapa Ra? Apa ada yang harus lo jenguk? Atau lo mau ngejenguk seseorang yang menurut lo ga merduliin lo?” Tanyanya dengan nada yang sangatlah super sinis.

“Sebegitu bencinya lo sama gue? Sampai nada bicara lo sinis kaya gitu?” Tanya gue dengan air mata yang siap meluncur.

Anita berdiri dari bangku ruang tunggu. “ Harusnya lo nanya ke diri lo sendiri. Sebegitu bencinya lo sama orang yang jelas-jelas merduliin lo?” Lalu dia pergi ninggalin gue.

Gue melangkah menuju ruangan dimana Andi dirawat.

Tok.. Tok.. Tok..

“Masuk” terdengar suara Tante Marissa yang sepertinya sedang menangis meratapi anaknya. Gue membuka pintu dengan perlahan. Mengartikan apa yang sebenarnya terjadi.

“Tan.. Tante..” Gue menunduk dan mendekati Tante Marissa lalu gue memeluknya.

“Maaf Tan,” ucap gue dengan tangis yang bisa gue tahan.

“Tante yang harusnya minta maaf. Tante tau, sikap tante sama Andi pasti bikin kamu kecewa. Tapi Andi terlalu sayang sama kamu sampai dia ga mau kamu tau tentang keadaan dia sekarang.” Ucap Tante Marissa. Mata gue berbinar, menetes dan terus menetes. Mengharapkan kejelasan tentang apa yang Tante Marissa bilang ke gue. 

“Andi berpenyakit Clara, kamu dapat lihat sendiri dengan tak berdayanya Andi membiarkan tubuhnya terkapar. Dia selalu ingin melindungimu, tetapi dia tak bisa melindungi dirinya sendiri. Belakangan ini dia sering jatuh pingsan, otaknya terasa terlalu berat. Tapi dia hanya bisa menyembunyikan semua itu di hadapanmu. Dia ga mau liat kamu sedih, lebih baik melihat kamu membencinya daripada harus melihatmu untuk menangisinya.”

Gue terdiam sejenak. Mencerna apa yang diucapkan Tante Marissa. 

“Ja.. Jadi..” Mata gue terpejam perlahan. Semua kenangan manis diantara gue dan Andi ternodai oleh keegoisan gue. Suasana hening. Tiada kata-kata lagi dari mulut Tante Marissa. Ia pun tela terhenti dari tangisnya krena nafasnya telah terengah menahan kesakitan ini. Gue duduk di dekat Tante, lalu gue mendengar perut tante yang berbunyi. Sepertinya ia lapar, mungkin ia belum makan.

“Tante, aku mau keluar dulu sebentar.” Gue pamit buat keluar, yang sebenernya gue mau beli makanan buat Tante, sekalian buat gue juga.

15 menit kemudian..

Gue berjalan dengan pasti buat nyerahin makanan ini buat Tante Marissa yang udah laper.

BRAK.. Makanan yang gue bawa terjatuh dan berhamburan sudah saat gue melihat teriakan histeris Tante Marissa keluar ruangan dengan beberapa suster yang menggiring ranjang beroda. Setelah itu gue ga bisa liat apa-apa lagi. Mungkin mata gue udah buta karena gue ga kuat melihat kenyataan.

***

Mata gue terbuka perlahan, terasa semu bayangan bayangan yang gue liat. Beberapa detik kemudian gue sadar bahwa gue ga buta seperti yang gue kira waktu itu. Ternyata gue pingsan. Gue liat di samping gue ada Tante Marissa. Gue terbangun dan langsung memeluk Tante Marissa. Tante Marissa yang ga sadar kalau gue udah sadar langsung menghapus air matanya. 

“Tan, aku mau ke ruangan Andi.” Ucap gue lemas.

“Sudahlah, kamu ga akan bisa menyusulnya. Dia terlalu jauh untuk kamu susul” jawabnya lembut.

“Maksud Tante?” 

“Ayo kita pulang. Nanti akan tante ceritakan semuanya sama kamu. Tante juga akan meminta ijin pada orang tuamu agar kamu diperbolehkan menginap malam ini di rumah Tante.”

Lalu kami pun segera berkemas. Yang sebenernya gue penasaran banget dengan apa yang udah terjadi. Tapi, Tante Marissa ga mau nyeritin semuanya ke gue sekarang. Jadi mau ga mau gue bungkam.

***

“Claraaa..” Panggil Tante Marissa dari luar rumah. Gue yang lagi nonton televisi lalu berlari mendekat pada Tante Marissa.

“Sekarang, akan Tante penuhi janji tante. Tante akan menceritakan semuanya padamu. Ayo ikut tante.” Aku mengikuti langkah Tante. Lalu Tante mengajaku duduk di ayunan taman rumahnya. Ayunan yang dimana dulu gue sama Andi sering banget maen ayunan disitu dan berkejar-kejaran di taman itu.

Tante Marissa memecahkan keheningan malam itu. “Liat Clara, bintang itu bintang yang paling bersinar.” Gue melihat bintang yang ditunjuk Tante Marissa. Gue masih terdiam. “Jarak ke bintang itu pasti jauuuuh sekali.” Lanjutnya.

Gue hanya mengangguk. Sampai saat ini gue belum tau apa yang sebenrnya maksud yang dibilang sama Tante Marissa.

“Clara, kamu kangen sama Andi?” 

Deg, pertanyaan itu...

“Iya tante.” Jawabku singkat sambil menahan air mataku.

“Ini” lalu Tante Marissa menyodorkan sesuatu padaku.

Clara, sebelumnya gue mau minta maaf atas kelakuan gue yang bikin lo sedih, kecewa dan bikin lo benci sama gue. tapi percaya deh, gue ngelakuin ini karena gue pikir inilah jalan satu-satunya biar lo ga terlalu kaget dengan apa yang terjadi.

oh iya, di surat ini, gue Cuma mau nyampein sesuatu aja. kalau lo ngerasa kangen sama gue caranya gampang kok. lo tinggal pergi keluar rumah, lalu pandangin langit dan cari bintang yang paling bersinar. karena itulah gue. lo boleh sesuka hati mandangin gue, karena gue rela dipandangin setiap detik sama lo Ra J

dan satu hal lagi, sesuatu yang buat gue ga mau liat air mata lo jatuh karena satu hal. pertama gue sayang sama lo dan sayang itu berubah menjadi cinta.

hidup dengan baik demi gue ya Ra. J

Andi

Gue ngelirik Tante Marissa. Tante Marissa hanya tersenyum sembari menunjuk bintang yang paling terang. “Dia disana” ucapnya singkat.

Gue meluk tante Marissa. Gue sadar sekarang, ternyata Andi ngejauhin gue bukan karena apapun, tapi karena dia terlalu sayang sama gue sampe dia ga mau liat setetes pun air mata di pipi gue. 

Dear, Andi

Andi, walaupun lo udah ga ada di samping gue dan ga kan pernah bisa ngebuat gue benci lagi sama lo, tapi tetep ada rasa benci gue karena lo menjauh demi hal yang ga penting. Tapi sayang, rasa sayang gue ke lo ngalahin semua rasa benci dan kesalahan-kesalahan lo ke gue. Kini, gue yakin dan gue pastiin bahwa lo adalah Bintang Yang Paling Bersinar di hati gue.. Gumam gue dalam hati..

Pahit Pada Akhirnya

Hari-hari membosankanpun telah terlewati . Tinggal aku menunggu hasil penerimaan mahasiswa.  Sambil menunggu, aku berlibur di rumah sendirian karena ayah, ibu ,dan kakak pulang ke jakarta. Otomatis aku sendirian di bandung, Tidak ada pembantu adapun supir yang juga ikut ke jakarta.
Hari Ini Senin, dan aku harus mengecek status ku di kampus tujuanku. Karna kumalas pergi sendirian aku mengajak  Ghina untuk menemaniku dan kebetulan juga dia satu tujuan denganku. Akupun BBM Ghina.

“Ghin, jemput gue dong. Gue Mau Ke kampus”. Pesanku singkat.
“Yaaah Ra, gue nggak boleh bawa mobil, lu aja yang jemput gw”. Jawabnya membalikan perintahku.
“Ah dasar, niat gue nyusahin lu malah gw yang susah!!!!” . Balasku

Akupun mengeluarkan mobil dari garasi keluar rumah dan mengunci pintu pagar. Meluncurlah mobilku kerumah Ghina. Sesampai disana aku tak berani tuk membunyikan bel aku hanya BBM Ghina agar dia segera turun, Semua itu karna ayahnya yang killer.

“Ghin, Turun Dong. Gue dah nyampe didepan rumah loe”. Pintaku.
“Kenapa Ga masuk aja?? Gw lagi siap-siap!!!”. Kata Ghina
“Nggak Ah. Ntar hawanya panas. Ada bokap loe kan???. Udah Cepetan Turun!!!”. Kataku
“Kenapa musti buru-buru sih???. Emangnya si Kunyuk kemana??”. Dia malah memprotes.
“Si Angga masih tidur !!!. Udah Turun aja loe!!”. Kututup Percakapan kami Di BBM.
Tak lama ghina pun keluar rumah menghapiriku. Lalu Ia Bertanya
“Haraaaaaa...., Udah lama nunggu???” dia mulai bercanda
“Berisik Loe, Udah kita cabut” Balasku kecut.
“Yeeeeh, Dia Marah. Hahahha.....”. Katanya

Sesampai di kampus aku menuju pusat infomasi
Hara Maudina, Itulah namaku. Nama itu terpampang di daftar mahasiswa baru. Begitupun Ghina. Akupun pulang dengan ceria. Tak sabar aku memberitakan ini pada orangtuaku. Karna mereka sangat mendukungku untuk masuk perguruan tinggi ini.

Beberapa minggu kemudian akupun masuk kampus dan menjalani ospek yang diselengarakan senior. Sama seperti saat smp ketika memasuki sma dulu, aku dipaksa memakai aksesoris aneh yang tentunya membuatku Mati Kutu. Tak terasa Ospek pun berjalan lancar walaupun dihiasi beberapa insiden. Contohnya Aku Pingsan waktu di suruh bersihin halaman sekolah. Untungnya ada yang nolongin dan nganter aku pulang. Kejadiannya dimulai dari sini....

“Kalian tuh harusnyanurut apa kata senior!!!!, Kalu disuruh nyapu, ya nyapu!!!!!.” Kata Seorang Senior dengan ganasnya. Tapi Setelah itu

Gubrakkk. Tiba tiba keadaan hening ketika Aku jatuh pingsan dihadapannya. Mereka semua panik dan membawaku ke unit kesehatan. Akupun Mulai Siuman dan bertanya..

“Dimana aku???”. Aku Kebingungan Dengan Ghina Di Sebelahku
“Kamu ada di ruang kesehatan!!!”. Kata Senior yang membentakku tadi.
“Ohhh. Jam berapa sekarang”. Aku Bertanya kembali.
“Sekitar Jam Setengah 4 Sore, Kamu mau Pulang???”. Dia menawarkanku untuk diantar pulang. Akupun hanya mengangguk, dan bertanya kepada ghina.
“Mana Angga, Ghin????”
“Angga masih ada ospek, Tadinya sih dia memang disini!.” Kata Ghina
“Angga itu Pacar kamu ya!!” Kata Sony.
“Iya Kak.” Kataku lemas.

Akupun pulang diantar pulang oleh Sony, aku mengetahui namanya dari name tag yang terpasang di jas almamaternya. Akupun sampe di rumah dengan keadaan masih lemas dan keluargaku masih berada di jakarta. Aku mengajaknya masuk.

“Makasih yaa kak, Inilah rumahku. Ayo masuk.” Tawarku.
“Ya makasih, Ini Kunci mobilnya.” Dia menyerahkan kunci mobilku
“Udah Simpen aja Ntar kakak pulang pake apa???. Paling besok aku ambil!!”. Kataku Menolaknya mengembalikan kunci mobilku.
“Ohhh ya udah. Ngomong ngomong kamu sendirian di sini!!!” Tanyanya.
“Iyaa. Keluargaku ada di jakarta kak.” Jawabku.
“Ohhh yaudah kakak pulang dulu yaa. Ntar Besok aku jemput.” Dia Pun berpamitan
“Ya. Hati hati ya kak” 

Tak lama Kemudia Terdengar mobil angga dan suara derit ban. Kiitttt...... Begitu Kencangnya bunyi itu.

“Hara Kamu ngga apa apakan???” Katanya sambil panik.
“Ngga, Aku cuman butuh istirahat aja kok!!”. 
“Sukurlah. Kamu Dianter Senior ya. Tadi ghina Ngasih tau aku.”
“Yaaa. Ayo masuk. Diem aja diluar, dingin tau!!!” kataku Protes
“Iyeee. Gue Juga Tau”. Dia balik Protes.
“Mau Nginep di Sini???, Klo Mau Pake kamar kakak Gue Aja”. Tawarku, Memang Dia Sering menginap di Rumahku dan tidur di sofa. Walau begitu kami tak pernah macam macam lho...
“Iya Udah Deh. Disini Sepi ga ada Yang Jagain kamu”. Dia pun mengiyakan saja.

Pagi Ini aku diantar angga dan BBM Sony supaya Tidak Usah menjemputku. Aku satu jurusan dengan Angga. Angga mungkin cowok paling perfect dimataku, Aku tak pernah merasa sedih di sisinya. Aku selalu di sayangnya, aku pikir dialah cowok paling romantis bagiku. Contohnya hari ini, bahkan akupun tak tahu hari ini aku ulang tahun tapi angga selalu ingat. Disiapkannya kejutan untukku, Diapun bekerjasama Dengan Ghina. Kata ghina Aku harus ke cafe tempat biasa nongkrong sore ini.

“Ra, loe bisa dateng ke kafe ga sore ini??? Ada yang mau Gue kasih tau”. Kata ghina
“Bisa, Emang Ada Apa Ghin???”. Jawabku
“Udah Loe datang aja, ini penting”. Katanya Lagi
“Iyee, Ntar gue kesana”. Jawabku

Akupun Bersiap-siap untuk pergi ke kafe. Aku keluarkan mobilku dari garasi dan menuju kesana. Tak lupa aku kenakan gaun sesuai apa yang diperintah ghina. Okelah aku nurut kali ini. Akupun sampai di tujuan.

“Ada apa sih?? Kayaknya penting banget. Mana gue disuruh pake gaun segala lagi??”
“Udah loe tunggu aja”. Katanya membalas pertanyaanku
“Iyaaa. Tapi Ada apa. Katanya ada yang mau di kasih tau”. Tanyaku Ngotot.
Tiba-tiba Angga datang. Dan
“Kejutaaaaaan”. Kata angga, Ghina dan teman teman lainnya.
“Anggaaa. Ada Apa ini???”
“Hari ini kamu ulang taun. Happi Birthday ya Hara!!!”
“Ohhhh Iya Aku hampir Lupa. Makasih ya sayang....”. Kataku Sambil menitikkan airmata karna haru.
“Sama2 sayang. Aku masih punya kejutan untuk kamu”
“Apaa?”
“Nih”. Katanya sambil membuka tirai yang isinya semua orang satu kampus. Mereka semua Baris teratur yang membentuk tulisan I love U. Dari Lantai 2 aku melihatnya dengan jelas.
“anggaaaa.....”
“Ya. Ada apa??”
“Kamu ngasih tau semua orang kecuali aku!!!” Kataku pura pura marah.
“Loh kok malah marah. Kan Kejutan, kalo kamu tau bukan kejutan namanya”. Kata Angga membalas santai.
“Ihhh, kok malah santai sih. Kenapa sih dia sesabar ini??” Aku Bertanya Dalam hati. Karna dia tak pernah marah walau aku sudah membuatnya bete abis, Dia Ngga Pernah marah!!.
“Iya Sih. Aa...” Kataku menjawabnya tapi tiba tiba aku menjerit karna dia langsung menggendongku kemobilnya.

**
“Kita mau kemana??” Tanyaku.
“Udah Ikut aja. Ghina Juga tau kok, nih pake ini dulu”katanya sambil menyerahkan kain penutup mata.

Akupun memakainya dan tak lama kamipun sampai.Ternyata aku dibawa ketempat yang aku paling suka yaitu di atap gedung tinggi pada malam hari dan disana ada meja yang terdapat lilin diatasnya. Kembali aku terharu dan meneteskan air mata. Dan anggapun bertanya

“Loh kok malah nangis” Angga bertanya kebingungan
“........mmmhh.....” Aku hanya mengelengkan kepala takbisa berkata kata
“Ada apa. Kamu takut ketinggian?? Atau kamu nggak suka??” Dia semakin kebingungan.
“so sweet banget!!!” akhirnya aku bisa berkata.
“Ohhh. Tapi kamu keliatan sedih. Apa kamu mau pulang??” kata angga
“Yaudah kita pulang yuk” katanya lagi.

Aku yang takbisa berkata kata pun nurut saja. Kami pun turun. Sesampainya di lantai bawah, keadaannya gelap. Akupun memeluknya, tapi tiba tiba dari kegelapan muncul cahaya lampu berwarna yang bertuliskan “I Love U”. Ternyata ghina, dan lainnya sudah merencanakan semua ini secara matang yang tentunya atas kemauan angga.

Sudah cukup aku merasakan semua ini, tapi masih saja perasaan itu menganjal di benakku. Malah persaan ini seakan menjadi jadi saat ini. Aku pun makin tak tenang.

Angga pun mengajakku pulang. Sedangkan mobilku ghina yang bawa. Kamipun pulang membelah pekatnya malam. Tapi ....

Bukkkk
Mobil kami terguling guling sampai ringsek tak karuan. Aku Masih sadar dalam keadaan mobil terbalik. Akupun berusaha keluar mobil dibantu supir truk yang menabrak kami secara kencang itu, Setelah itu aku membantu angga keluar. Tapi Angga tak sadarkan diri, aku menelpon ambulance. Aku hanya bisa menangis dan menangis. Sampai diruang UGD angga masih tertolong. Di Bilang Padaku

“Hara sayang, jangan nangis dong. Kan Aku Masih selamat” Katanya membujukku untuk tidak menangis

“Tapi aku khawatir sama kamu......” Kataku. Mungkin ini perasaan ku itu selama ini, Angga Akan mendapat musibah.

Tapi Semua Itu Belum berakhir. Dua minggu kemudian angga pun pergi meninggalkan ku. Aku Yang Berniat membesuk dia, malah Aku menerima kejadian yang tak di inginkan ini. Dia meninggal, Aku Hanya menangis Sekencang kencangnya. Sebelum di pergi, dia bilang padaku.
“Hara, Kamu Pegang ini ya. Aku mau kamu dengar rekaman ini. Aku udah di jemput!!!” Katanya Lemas

“dijemput??. Sama Siapa??” kataku kebingungan sambil mengambil Memory card yang ada ditangannya.

“itu ada disana. Aku mau pergi..... Selamat tinggal Hara”. Katanya sambil menunjuk ke Pintu kamar, dan beberapa detik kemudian ia pun pergi, tak bernafas kembali.

Akupun sangat terpukul saat itu. Satu bulan aku bolos kuliah, aku hanya diam dalam kamar. Semua orang sangat prihatin melihatku, Aku nggak Nafsu Makan apalagi ketemu orang. Ghina hanya membujukku dan meminta agar memutar rekaman yang diberi oleh angga. Akhirnya aku mau. Kamipun memutarnya dikamarku. Angga bilang

“Hara, aku tau aku udah ngga lama lagi ada di muka bumi ini. Tapi aku sayang banget sama kamu. Sumpah aku ngga pernah bisa tidur karena kamu, aku hanya memikirkan kamu. Hara, semoga kamu bahagia dengan laki-laki yang kamu sayang. Tapi aku ingin kamu nggak ngelupain aku. Aku merencanakan untuk melamar kamu ketika lulus nanti. Tapi waktu berkata lain. Ternyata aku dijemput lebih awal. Aku Mohon kamu jangan sedih, Jika Kamu Sedih aku pun tak tenang meninggalkanmu!!!. Semoga kamu bahagia di dunia sana. Aku tidak bisa apa-apa. Aku akan senang bila melihat kau bahagia!!!. Aku Tau Mungkin kamu lagi menangis di bawah sana, tapi please janganlah menangis terus menerus, itu membuatku tak tenang!!!. Mungkin aku akan senang jika kammu bersama sony. Aku merasakan sonylah yang pantas menjadi penggantiku. Tapi bagaimanapun kau adalah hal yang terindah yang pernah ku miliki. Hara, I Love You!!!” Angga merekam kata-katanya.

Aku hanya bisa bersedih, ditinggal orang tersayang itu ternyata berat!!!. Ternyata Benar Perasaanku Selama Ini aku akan kehilangan angga untuk selamanya!!!. Mungking dulu aku merasa aku cewe paling beruntung, Memang. Tapi Sekarang Aku merasa menjadi cewe paling bersedih di dunia ini. Ditinggal Orang Paling romantis yang pernah aku kenal. Tapi Aku harus mulai hidup baru bersama orang lain. Dan pasti aku tak akan pernah melupakannya. Angga aku sayang Sama Kamu!!!
TAMAT

Hari-hari membosankanpun telah terlewati . Tinggal aku menunggu hasil penerimaan mahasiswa.  Sambil menunggu, aku berlibur di rumah sendirian karena ayah, ibu ,dan kakak pulang ke jakarta. Otomatis aku sendirian di bandung, Tidak ada pembantu adapun supir yang juga ikut ke jakarta.
Hari Ini Senin, dan aku harus mengecek status ku di kampus tujuanku. Karna kumalas pergi sendirian aku mengajak  Ghina untuk menemaniku dan kebetulan juga dia satu tujuan denganku. Akupun BBM Ghina.

“Ghin, jemput gue dong. Gue Mau Ke kampus”. Pesanku singkat.
“Yaaah Ra, gue nggak boleh bawa mobil, lu aja yang jemput gw”. Jawabnya membalikan perintahku.
“Ah dasar, niat gue nyusahin lu malah gw yang susah!!!!” . Balasku

Akupun mengeluarkan mobil dari garasi keluar rumah dan mengunci pintu pagar. Meluncurlah mobilku kerumah Ghina. Sesampai disana aku tak berani tuk membunyikan bel aku hanya BBM Ghina agar dia segera turun, Semua itu karna ayahnya yang killer.

“Ghin, Turun Dong. Gue dah nyampe didepan rumah loe”. Pintaku.
“Kenapa Ga masuk aja?? Gw lagi siap-siap!!!”. Kata Ghina
“Nggak Ah. Ntar hawanya panas. Ada bokap loe kan???. Udah Cepetan Turun!!!”. Kataku
“Kenapa musti buru-buru sih???. Emangnya si Kunyuk kemana??”. Dia malah memprotes.
“Si Angga masih tidur !!!. Udah Turun aja loe!!”. Kututup Percakapan kami Di BBM.
Tak lama ghina pun keluar rumah menghapiriku. Lalu Ia Bertanya
“Haraaaaaa...., Udah lama nunggu???” dia mulai bercanda
“Berisik Loe, Udah kita cabut” Balasku kecut.
“Yeeeeh, Dia Marah. Hahahha.....”. Katanya

Sesampai di kampus aku menuju pusat infomasi
Hara Maudina, Itulah namaku. Nama itu terpampang di daftar mahasiswa baru. Begitupun Ghina. Akupun pulang dengan ceria. Tak sabar aku memberitakan ini pada orangtuaku. Karna mereka sangat mendukungku untuk masuk perguruan tinggi ini.

Beberapa minggu kemudian akupun masuk kampus dan menjalani ospek yang diselengarakan senior. Sama seperti saat smp ketika memasuki sma dulu, aku dipaksa memakai aksesoris aneh yang tentunya membuatku Mati Kutu. Tak terasa Ospek pun berjalan lancar walaupun dihiasi beberapa insiden. Contohnya Aku Pingsan waktu di suruh bersihin halaman sekolah. Untungnya ada yang nolongin dan nganter aku pulang. Kejadiannya dimulai dari sini....

“Kalian tuh harusnyanurut apa kata senior!!!!, Kalu disuruh nyapu, ya nyapu!!!!!.” Kata Seorang Senior dengan ganasnya. Tapi Setelah itu

Gubrakkk. Tiba tiba keadaan hening ketika Aku jatuh pingsan dihadapannya. Mereka semua panik dan membawaku ke unit kesehatan. Akupun Mulai Siuman dan bertanya..

“Dimana aku???”. Aku Kebingungan Dengan Ghina Di Sebelahku
“Kamu ada di ruang kesehatan!!!”. Kata Senior yang membentakku tadi.
“Ohhh. Jam berapa sekarang”. Aku Bertanya kembali.
“Sekitar Jam Setengah 4 Sore, Kamu mau Pulang???”. Dia menawarkanku untuk diantar pulang. Akupun hanya mengangguk, dan bertanya kepada ghina.
“Mana Angga, Ghin????”
“Angga masih ada ospek, Tadinya sih dia memang disini!.” Kata Ghina
“Angga itu Pacar kamu ya!!” Kata Sony.
“Iya Kak.” Kataku lemas.

Akupun pulang diantar pulang oleh Sony, aku mengetahui namanya dari name tag yang terpasang di jas almamaternya. Akupun sampe di rumah dengan keadaan masih lemas dan keluargaku masih berada di jakarta. Aku mengajaknya masuk.

“Makasih yaa kak, Inilah rumahku. Ayo masuk.” Tawarku.
“Ya makasih, Ini Kunci mobilnya.” Dia menyerahkan kunci mobilku
“Udah Simpen aja Ntar kakak pulang pake apa???. Paling besok aku ambil!!”. Kataku Menolaknya mengembalikan kunci mobilku.
“Ohhh ya udah. Ngomong ngomong kamu sendirian di sini!!!” Tanyanya.
“Iyaa. Keluargaku ada di jakarta kak.” Jawabku.
“Ohhh yaudah kakak pulang dulu yaa. Ntar Besok aku jemput.” Dia Pun berpamitan
“Ya. Hati hati ya kak” 

Tak lama Kemudia Terdengar mobil angga dan suara derit ban. Kiitttt...... Begitu Kencangnya bunyi itu.

“Hara Kamu ngga apa apakan???” Katanya sambil panik.
“Ngga, Aku cuman butuh istirahat aja kok!!”. 
“Sukurlah. Kamu Dianter Senior ya. Tadi ghina Ngasih tau aku.”
“Yaaa. Ayo masuk. Diem aja diluar, dingin tau!!!” kataku Protes
“Iyeee. Gue Juga Tau”. Dia balik Protes.
“Mau Nginep di Sini???, Klo Mau Pake kamar kakak Gue Aja”. Tawarku, Memang Dia Sering menginap di Rumahku dan tidur di sofa. Walau begitu kami tak pernah macam macam lho...
“Iya Udah Deh. Disini Sepi ga ada Yang Jagain kamu”. Dia pun mengiyakan saja.

Pagi Ini aku diantar angga dan BBM Sony supaya Tidak Usah menjemputku. Aku satu jurusan dengan Angga. Angga mungkin cowok paling perfect dimataku, Aku tak pernah merasa sedih di sisinya. Aku selalu di sayangnya, aku pikir dialah cowok paling romantis bagiku. Contohnya hari ini, bahkan akupun tak tahu hari ini aku ulang tahun tapi angga selalu ingat. Disiapkannya kejutan untukku, Diapun bekerjasama Dengan Ghina. Kata ghina Aku harus ke cafe tempat biasa nongkrong sore ini.

“Ra, loe bisa dateng ke kafe ga sore ini??? Ada yang mau Gue kasih tau”. Kata ghina
“Bisa, Emang Ada Apa Ghin???”. Jawabku
“Udah Loe datang aja, ini penting”. Katanya Lagi
“Iyee, Ntar gue kesana”. Jawabku

Akupun Bersiap-siap untuk pergi ke kafe. Aku keluarkan mobilku dari garasi dan menuju kesana. Tak lupa aku kenakan gaun sesuai apa yang diperintah ghina. Okelah aku nurut kali ini. Akupun sampai di tujuan.

“Ada apa sih?? Kayaknya penting banget. Mana gue disuruh pake gaun segala lagi??”
“Udah loe tunggu aja”. Katanya membalas pertanyaanku
“Iyaaa. Tapi Ada apa. Katanya ada yang mau di kasih tau”. Tanyaku Ngotot.
Tiba-tiba Angga datang. Dan
“Kejutaaaaaan”. Kata angga, Ghina dan teman teman lainnya.
“Anggaaa. Ada Apa ini???”
“Hari ini kamu ulang taun. Happi Birthday ya Hara!!!”
“Ohhhh Iya Aku hampir Lupa. Makasih ya sayang....”. Kataku Sambil menitikkan airmata karna haru.
“Sama2 sayang. Aku masih punya kejutan untuk kamu”
“Apaa?”
“Nih”. Katanya sambil membuka tirai yang isinya semua orang satu kampus. Mereka semua Baris teratur yang membentuk tulisan I love U. Dari Lantai 2 aku melihatnya dengan jelas.
“anggaaaa.....”
“Ya. Ada apa??”
“Kamu ngasih tau semua orang kecuali aku!!!” Kataku pura pura marah.
“Loh kok malah marah. Kan Kejutan, kalo kamu tau bukan kejutan namanya”. Kata Angga membalas santai.
“Ihhh, kok malah santai sih. Kenapa sih dia sesabar ini??” Aku Bertanya Dalam hati. Karna dia tak pernah marah walau aku sudah membuatnya bete abis, Dia Ngga Pernah marah!!.
“Iya Sih. Aa...” Kataku menjawabnya tapi tiba tiba aku menjerit karna dia langsung menggendongku kemobilnya.

**
“Kita mau kemana??” Tanyaku.
“Udah Ikut aja. Ghina Juga tau kok, nih pake ini dulu”katanya sambil menyerahkan kain penutup mata.

Akupun memakainya dan tak lama kamipun sampai.Ternyata aku dibawa ketempat yang aku paling suka yaitu di atap gedung tinggi pada malam hari dan disana ada meja yang terdapat lilin diatasnya. Kembali aku terharu dan meneteskan air mata. Dan anggapun bertanya

“Loh kok malah nangis” Angga bertanya kebingungan
“........mmmhh.....” Aku hanya mengelengkan kepala takbisa berkata kata
“Ada apa. Kamu takut ketinggian?? Atau kamu nggak suka??” Dia semakin kebingungan.
“so sweet banget!!!” akhirnya aku bisa berkata.
“Ohhh. Tapi kamu keliatan sedih. Apa kamu mau pulang??” kata angga
“Yaudah kita pulang yuk” katanya lagi.

Aku yang takbisa berkata kata pun nurut saja. Kami pun turun. Sesampainya di lantai bawah, keadaannya gelap. Akupun memeluknya, tapi tiba tiba dari kegelapan muncul cahaya lampu berwarna yang bertuliskan “I Love U”. Ternyata ghina, dan lainnya sudah merencanakan semua ini secara matang yang tentunya atas kemauan angga.

Sudah cukup aku merasakan semua ini, tapi masih saja perasaan itu menganjal di benakku. Malah persaan ini seakan menjadi jadi saat ini. Aku pun makin tak tenang.

Angga pun mengajakku pulang. Sedangkan mobilku ghina yang bawa. Kamipun pulang membelah pekatnya malam. Tapi ....

Bukkkk
Mobil kami terguling guling sampai ringsek tak karuan. Aku Masih sadar dalam keadaan mobil terbalik. Akupun berusaha keluar mobil dibantu supir truk yang menabrak kami secara kencang itu, Setelah itu aku membantu angga keluar. Tapi Angga tak sadarkan diri, aku menelpon ambulance. Aku hanya bisa menangis dan menangis. Sampai diruang UGD angga masih tertolong. Di Bilang Padaku

“Hara sayang, jangan nangis dong. Kan Aku Masih selamat” Katanya membujukku untuk tidak menangis

“Tapi aku khawatir sama kamu......” Kataku. Mungkin ini perasaan ku itu selama ini, Angga Akan mendapat musibah.

Tapi Semua Itu Belum berakhir. Dua minggu kemudian angga pun pergi meninggalkan ku. Aku Yang Berniat membesuk dia, malah Aku menerima kejadian yang tak di inginkan ini. Dia meninggal, Aku Hanya menangis Sekencang kencangnya. Sebelum di pergi, dia bilang padaku.
“Hara, Kamu Pegang ini ya. Aku mau kamu dengar rekaman ini. Aku udah di jemput!!!” Katanya Lemas

“dijemput??. Sama Siapa??” kataku kebingungan sambil mengambil Memory card yang ada ditangannya.

“itu ada disana. Aku mau pergi..... Selamat tinggal Hara”. Katanya sambil menunjuk ke Pintu kamar, dan beberapa detik kemudian ia pun pergi, tak bernafas kembali.

Akupun sangat terpukul saat itu. Satu bulan aku bolos kuliah, aku hanya diam dalam kamar. Semua orang sangat prihatin melihatku, Aku nggak Nafsu Makan apalagi ketemu orang. Ghina hanya membujukku dan meminta agar memutar rekaman yang diberi oleh angga. Akhirnya aku mau. Kamipun memutarnya dikamarku. Angga bilang

“Hara, aku tau aku udah ngga lama lagi ada di muka bumi ini. Tapi aku sayang banget sama kamu. Sumpah aku ngga pernah bisa tidur karena kamu, aku hanya memikirkan kamu. Hara, semoga kamu bahagia dengan laki-laki yang kamu sayang. Tapi aku ingin kamu nggak ngelupain aku. Aku merencanakan untuk melamar kamu ketika lulus nanti. Tapi waktu berkata lain. Ternyata aku dijemput lebih awal. Aku Mohon kamu jangan sedih, Jika Kamu Sedih aku pun tak tenang meninggalkanmu!!!. Semoga kamu bahagia di dunia sana. Aku tidak bisa apa-apa. Aku akan senang bila melihat kau bahagia!!!. Aku Tau Mungkin kamu lagi menangis di bawah sana, tapi please janganlah menangis terus menerus, itu membuatku tak tenang!!!. Mungkin aku akan senang jika kammu bersama sony. Aku merasakan sonylah yang pantas menjadi penggantiku. Tapi bagaimanapun kau adalah hal yang terindah yang pernah ku miliki. Hara, I Love You!!!” Angga merekam kata-katanya.

Aku hanya bisa bersedih, ditinggal orang tersayang itu ternyata berat!!!. Ternyata Benar Perasaanku Selama Ini aku akan kehilangan angga untuk selamanya!!!. Mungking dulu aku merasa aku cewe paling beruntung, Memang. Tapi Sekarang Aku merasa menjadi cewe paling bersedih di dunia ini. Ditinggal Orang Paling romantis yang pernah aku kenal. Tapi Aku harus mulai hidup baru bersama orang lain. Dan pasti aku tak akan pernah melupakannya. Angga aku sayang Sama Kamu!!!
TAMAT

Cerita Cinta Remaja Terbaru 2012


Sore itu aku duduk2 di teras belakang rumah.sambil liatin ikan hias piaraan papa di kolam kecil samping teras.aku masih memikirkan kata2 Vicka teman baikku di sekolah “mau sampai kapan kamu menjalin hubungan terlarang kamu sama Dicky,inget grace kamu udah di jodohin sama Winston!”.”vick..aku itu masih 18 tahun pernikahan ku sama winston itu toh masih nanti kalo aku lulus kuliah.masih 5 tahunan lagi.aku cinta sama Dicky vick.aku gag cinta sama Winston.”..”bukannya aku maksa kamu say..tapi kasian dicky nantinya.kamu bisa lihat kan betapa dicky cinta sama kamu…gimana nanti kalo saat dicky semakin mencintai kamu,kamu malah menikah dengan orang lain.pikirin perasaannya dicky”. 

hhuuhh…..Aku menghela napas panjang.rumit nya kisah cintaku…aku hanya ingin bahagia dengan orang yang aku cintai kenapa sesulit ini.bulan depan aku sudah lulus dari SMA itu artinya aku akan ninggalin indonesia.karena mama dan papa ingin aku kuliah di singapore.di kampus yang sama dengan Wins..anak temen papa sekaligus temen kecil aku.orang tuaku dan Wins udah sepakat menjodohkan kami nantinya.awalnya aku setuju2 aja.tapi semenjak aku mengenal dicky semua berubah….. 


“Grace!! Ada telfon dari Wins”teriak mama dari dalam yang memecahkan semua lamunanku tentang dicky
“iya ma.. bentar”
“Halo Grace!”terdengar suara Wins dari seberang sana
“Hai Wins…tumben telfon aku”
“Tumben???bukannya emang 2hari sekali aku telfon kamu yaa??”
“oh eh I iya Wins..lupa..”jawabku gugup
“Lupa??kamu kenapa sih hun?ada masalah ya kok gak konsen gitu.apa aku ganggu kamu nih”
“oh…gak kok wins sory sory….lagi banyak pikiran nih biasa deg deg an nunggu pengumuman kelulusan”
“oh.kamu pasti lulus kok sayang percaya deh sama aku…”
“Wins sory nih aku ngantuk banget telfonnya besok lagi aja ya…muach ” 

Aku langsung menutup telfon wins,jujur aku merasa sangat bersalah pada wins.dia selalu baik sama aku.tapi aku malah kaya gini.aku menuju ke kamarku,aku rebahkan tubuh aku.aku mulai memejamkan mataku.setelah itu aku hanyut dalam khayalan ku tentang Dicky
Esoknya aku menemui Dicky aku ceritakan semua padanya.mulai dari perjodohan ku dengan wins dan tentang rencana papa yang mau nguliahin aku ke luar negri.aku kira dicky akan marah mendengar pernyataan aku,tapi dia malah memeluk aku, 


“aku gak peduli kamu mau menikah dengan siapa nantinya.yang pasti aku bahagia banget bisa merasakan cinta dari kamu.”aduhhh kenapa dicky malah bicara kayak gitu aku malah semakin merasa bersalah padanya
“kamu kenapa gak marah aja sih dik,aku malah jadi makin sedih denger kamu ngomong kaya gitu”
“ada suatu hal yang bikin aku gag sedih kamu punya wins,jadi aku bisa tenang sekarang karena ada yang mencintai kamu dan lebih bisa membahagiakanmu nantinya sayang.karena aku gak mungkin selamanya di samping kamu” 


“sayang…kamu ngomong apa sih??”jujur aku merasa ada yang mengganjal dari kata2 diky tadi.merasa sedih gak karuan.perasaan apa ini
“oiya sayang kamu tinggal 1 bulan kan disini.mending kita susun rencana2 aja yank.pokoknya 1 bulan ini harus kita isi dengan kenangan2 indah yang tak terlupakan.biar gak ada yang menyesal nantinya.okey?”
aku menganggukkan kepalaku,Diky tersenyum padaku,senyum yang aku rasa aneh..
1 bulan terakhirku di indonesia aku lewati berdua dengan dicky.jalan2 ke mall,piknik ke pantai,puncak,hampir semua tempat wisata di kota kami kunjungi.bahagia banget.aku semakin sayang pada dicky.dan semakin gak sanggup meninggalkan dia nantinya.Hari terakhir kami lewati di pantai.Sebuah pantai berpasir putih di tengah desa yang tidak banyak orang yang tahu. 


“sayang”kata dicky…”apa sayy…”jawabku .”apa pesan dan kesan kamu selama 1 bulan ini full sama aku??”
“ya ampunn kaya pelajaran bahasa aja deh kamu pake pesan dan kesan segala”
“hahaha….iya donk mau rekam nih sayang.aku udah bawa alat perekamnya nih”
“ihh ya ampun segitunya…ehmm apa ya…bingung sayang”
“ungkapin apa yang ada di hati kamu.ungkapin semua yang kamu pikirkan tentang aku.siap yaaa”
aku mulai mengungkapkan perasaanku 


“Dicky sayang…makasih banget buat 1 bulan yang indah ini ya.aku gak akan pernah melupakan kenangan kita ini.aku…sangat sangat mencintai kamu.lebih dari apapun dik.maafin aku gak bisa kasih cinta yang sempurna buat kamu.tapi jujur aku sangat ingin hidup berdua dengan kamu selamanya.maafin aku….”selesai aku bicara aku melihat mata dicky menahan air matanya.ya…Tuhan hancur banget rasanya liat dia nangis kaya gitu.aku merasa jadi orang paling jahat sekarang.aku memeluk dicky erat.dicky pun membalas pelukan aku. 


“Grace..kamu jaga diri baik2 ya…kamu harus bahagia.dengan atau tanpa aku sayang.meskipun aku gak ada di samping kamu.tapi aku selalu ada di hati kamu sampai kapanpun”kata2 dicky di ucapkan dengan sangat lembut bahkan nyaris tidak terdengar.tapi hati aku bisa merasakan kepedihan yang sangat dalam di hati dicky.
Besoknya adalah pesta perpisahan di sekolahku.tapi dari tadi aku gak lihat sosok dicky.perasaan kawatir pun muncul di hati aku.aku coba menghubungi ponselnya tapi gak aktif.aku telfon rumahnya pembantunya bilang dicky udah berangkat dari sejam yang lalu.astaga dia kemana.kenapa saat terakhir aku disini kamu malah gak ada dik.kamu dimana??sampai acara selesai dicky gak juga muncul di sekolah.aku berjalan pelan di koridor sekolahku.terbayang masa2 aku dengan dicky.tawa,canda,dan bahkan tangis menghiasi cinta terlarang kami.sayang kamu dimana…aku pengen meluk kamu untuk terakhir kalinya…..sampai di gerbang mama dan papa udah nunggu aku,aku harus berangkat ke singapore hari ini juga.aku menuju ke mobil sambil sesekali menoleh ke belakang berharap dicky datang menghampiri aku.tapi gak ada.aku masuk ke mobil.tapi pandangan ku tetap ke arah belakang.perlahan mobil aku mulai berjalan.belum lama mobil kami berjalan seperti ada yang memanggilku.”Dicky”seruruku 


“kamu kenapa grace..dicky siapa??”
“aku denger ada yang manggil aku mah”lalu aku menoleh ke belakang tapi gag ada siapa2 di sana.tapi hati aku yakin ada yang memanggilku dan itu suara dicky.aku gak mungkin salah.”gak ada siapa2 sayang”kata papa
Aku udah pasrah….mungkin Tuhan belum ijinkan aku bertemu dengan dicky…tapi aku berjanji pada diriku sendiri aku pasti kembali ke sini. 



***

2 tahun kemudian……..
aku mengambil cuti kuliah 1 bulan.dan memutuskan untuk pulang ke indonesia.aku kangen sama mama papa.dan yang pasti aku sangat merindukan dicky.seperti apa dia sekarang….senyumku mengembang membayangkan Wajah Dicky.gak sabar pengen langsung menemuinya.siang itu juga aku pamit sama mama mau pergi ke rumah vicka.sesampai di rumah vicka dia menyambut aku dengan kebawelannya yang khas.
“Gracee!!! Ya ampun kangen banget, kapan sampe sini kok gak kabar2 aku sihh..jahat banget,masuk dulu yuk” 


“iya iya tapi abis ini anterin aku ke tempat dicky yaa..”
Vicka terlihat kaget mendengar ucapan aku.perasaan ku mendadak gak enak.
“kenapa vick??kok kayaknya kamu kaget banget??”
“kita ceritanya di dalem aja yaaa”
sesampainya di dalem vicka suruh aku duduk di kamarnya.vicka kelihatan sangat serius.mau gak mau aku jadi semakin gak tenang 


“kenapa vik?ada apa sebenernya.dicky gak apa2 kan dia baik2 aja kan”
“Grace….maafin aku gak crita soal ini ke kamu.plis janji jangan marah”
“iya aku janji…”
Vicka mulai bercerita
“2 tahun yang lalu saat pesta perpisahan dicky gag bisa dateng ke pesta karena dia mau beliin kamu bunga tapi sayangnya dia malah kejebak macet..hapenya mati dan gak bisa hubungin kamu.saat kamu pulang selang beberapa menit aja dicky dateng dia lari ngejar mobil kamu.tapi mobil kamu terlanjur jauh.dicky teriakin nama kamu sekencang mungkin bahkan banyak yang lihat kejadian itu.lalu ada beberapa tukang ojek yang mangkal di depan sekolah.dicky minjem salah satu motor milik tukang ojek di situ buat ngejar kamu..tapii….”kata2 vicka terhenti.prsaan aku sangat gag karuan saat itu.”tapi apa vik?” 


“tapi naas dicky di tabrak truk dari arah samping grace…..”
“trus dicky gimana dia gak kenapa2 kan vik dia baik2 aja kan?”
“setelah kejadian itu dicky masih bisa bernafas grace.orang2 disitu bawa dia ke RS termasuk aku.aku nungguin dia sampai sadar.ayah dan ibunya gak ada yang dateng.sekitar 1 jam kemudian dokter keluar.dokter bilang dicky ingin ketemu aku”aku masuk ke kamar UGD.aku lihat nafas dicky udah tersengal2 grace.dia nitip tape recorder ini buat kamu.dia bilang aku harus jaga kamu.karena dia udah gak bisa lagi jaga kamu.setelah dia mengatakan hal itu.Nafasnya berhenti grace..Dicky udah gak ada.dia udah tenang di sana sayang….” 


Aku terdiam…tubuh aku jadi sangat lemas mendengar cerita vika.
“grace jangan diem aja kalo mau nangis, nangis aja gak apa2”
“DICKY!!!!!!!!!!kenapa secepat ini vick…aku belum bisa ngebahagiain diaa”aku nangis sejadi2nya.menyesal,dan kecewa kenapa di saat terakhir dicky aku gak ada di sampingnya….andai saja waktu itu aku bisa menunggunya sebentar saja pasti gak akan kayak gini jadinya.andai saja waktu aku mendengar suaranya aku mau berhenti! 


Aku menerima rekaman pemberian dicky dari vika.setelah itu vika mengantarkan aku pulang.
aku masuk ke kamarku.aku rebahkan tubuhku.aku ambil rekaman dari dicky.aku putar perlahan….ternyata itu adalah rekaman suaraku waktu di pantai di hari terakhir aku bertemu dengannya.aku dengarkan sampai selesai.saat kata2ku di dalam rekaman itu selesai aku meletakkan nya di dada ku.tapi ternyata masih ada suara lagi.ternyata dicky menambahkan isi rekaman itu denagn kata2nya. 


Dicky::Grace sayang….mungkin memang kisah cinta kita gak sesempurna yang kita inginkan.tapi kamu adalah yang tersempurna yang pernah aku miliki.aku mencintai kamu melebihi diriku sendiri.suatu saat nanti kalau kita ketemu mungkin kamu udah mengendong anak kamu dengan winston yang manis2.dan aku akan memandang kamu dari jauh sayang.aku ikut tersenyum untuk kebahagiannmu.I love You My Princess… 
Ya..Tuhan..penyeslan yang teramat dalam aku rasakan sekarang…..
Dicky…aku janji aku akan bahagia buat kamu.tenang di sisiNya ya sayang…..I love You My Soumate…..
3 tahun kemudian aku akhirnya menikah dengan Winston.kami di karuniai 2 anak….dan memutuskan untuk menetap di singapore.tapi dicky…selamanya kenangan akan dia tidak akan pernah hilang……
Love U Dicky….
The And


Sore itu aku duduk2 di teras belakang rumah.sambil liatin ikan hias piaraan papa di kolam kecil samping teras.aku masih memikirkan kata2 Vicka teman baikku di sekolah “mau sampai kapan kamu menjalin hubungan terlarang kamu sama Dicky,inget grace kamu udah di jodohin sama Winston!”.”vick..aku itu masih 18 tahun pernikahan ku sama winston itu toh masih nanti kalo aku lulus kuliah.masih 5 tahunan lagi.aku cinta sama Dicky vick.aku gag cinta sama Winston.”..”bukannya aku maksa kamu say..tapi kasian dicky nantinya.kamu bisa lihat kan betapa dicky cinta sama kamu…gimana nanti kalo saat dicky semakin mencintai kamu,kamu malah menikah dengan orang lain.pikirin perasaannya dicky”. 

hhuuhh…..Aku menghela napas panjang.rumit nya kisah cintaku…aku hanya ingin bahagia dengan orang yang aku cintai kenapa sesulit ini.bulan depan aku sudah lulus dari SMA itu artinya aku akan ninggalin indonesia.karena mama dan papa ingin aku kuliah di singapore.di kampus yang sama dengan Wins..anak temen papa sekaligus temen kecil aku.orang tuaku dan Wins udah sepakat menjodohkan kami nantinya.awalnya aku setuju2 aja.tapi semenjak aku mengenal dicky semua berubah….. 


“Grace!! Ada telfon dari Wins”teriak mama dari dalam yang memecahkan semua lamunanku tentang dicky
“iya ma.. bentar”
“Halo Grace!”terdengar suara Wins dari seberang sana
“Hai Wins…tumben telfon aku”
“Tumben???bukannya emang 2hari sekali aku telfon kamu yaa??”
“oh eh I iya Wins..lupa..”jawabku gugup
“Lupa??kamu kenapa sih hun?ada masalah ya kok gak konsen gitu.apa aku ganggu kamu nih”
“oh…gak kok wins sory sory….lagi banyak pikiran nih biasa deg deg an nunggu pengumuman kelulusan”
“oh.kamu pasti lulus kok sayang percaya deh sama aku…”
“Wins sory nih aku ngantuk banget telfonnya besok lagi aja ya…muach ” 

Aku langsung menutup telfon wins,jujur aku merasa sangat bersalah pada wins.dia selalu baik sama aku.tapi aku malah kaya gini.aku menuju ke kamarku,aku rebahkan tubuh aku.aku mulai memejamkan mataku.setelah itu aku hanyut dalam khayalan ku tentang Dicky
Esoknya aku menemui Dicky aku ceritakan semua padanya.mulai dari perjodohan ku dengan wins dan tentang rencana papa yang mau nguliahin aku ke luar negri.aku kira dicky akan marah mendengar pernyataan aku,tapi dia malah memeluk aku, 


“aku gak peduli kamu mau menikah dengan siapa nantinya.yang pasti aku bahagia banget bisa merasakan cinta dari kamu.”aduhhh kenapa dicky malah bicara kayak gitu aku malah semakin merasa bersalah padanya
“kamu kenapa gak marah aja sih dik,aku malah jadi makin sedih denger kamu ngomong kaya gitu”
“ada suatu hal yang bikin aku gag sedih kamu punya wins,jadi aku bisa tenang sekarang karena ada yang mencintai kamu dan lebih bisa membahagiakanmu nantinya sayang.karena aku gak mungkin selamanya di samping kamu” 


“sayang…kamu ngomong apa sih??”jujur aku merasa ada yang mengganjal dari kata2 diky tadi.merasa sedih gak karuan.perasaan apa ini
“oiya sayang kamu tinggal 1 bulan kan disini.mending kita susun rencana2 aja yank.pokoknya 1 bulan ini harus kita isi dengan kenangan2 indah yang tak terlupakan.biar gak ada yang menyesal nantinya.okey?”
aku menganggukkan kepalaku,Diky tersenyum padaku,senyum yang aku rasa aneh..
1 bulan terakhirku di indonesia aku lewati berdua dengan dicky.jalan2 ke mall,piknik ke pantai,puncak,hampir semua tempat wisata di kota kami kunjungi.bahagia banget.aku semakin sayang pada dicky.dan semakin gak sanggup meninggalkan dia nantinya.Hari terakhir kami lewati di pantai.Sebuah pantai berpasir putih di tengah desa yang tidak banyak orang yang tahu. 


“sayang”kata dicky…”apa sayy…”jawabku .”apa pesan dan kesan kamu selama 1 bulan ini full sama aku??”
“ya ampunn kaya pelajaran bahasa aja deh kamu pake pesan dan kesan segala”
“hahaha….iya donk mau rekam nih sayang.aku udah bawa alat perekamnya nih”
“ihh ya ampun segitunya…ehmm apa ya…bingung sayang”
“ungkapin apa yang ada di hati kamu.ungkapin semua yang kamu pikirkan tentang aku.siap yaaa”
aku mulai mengungkapkan perasaanku 


“Dicky sayang…makasih banget buat 1 bulan yang indah ini ya.aku gak akan pernah melupakan kenangan kita ini.aku…sangat sangat mencintai kamu.lebih dari apapun dik.maafin aku gak bisa kasih cinta yang sempurna buat kamu.tapi jujur aku sangat ingin hidup berdua dengan kamu selamanya.maafin aku….”selesai aku bicara aku melihat mata dicky menahan air matanya.ya…Tuhan hancur banget rasanya liat dia nangis kaya gitu.aku merasa jadi orang paling jahat sekarang.aku memeluk dicky erat.dicky pun membalas pelukan aku. 


“Grace..kamu jaga diri baik2 ya…kamu harus bahagia.dengan atau tanpa aku sayang.meskipun aku gak ada di samping kamu.tapi aku selalu ada di hati kamu sampai kapanpun”kata2 dicky di ucapkan dengan sangat lembut bahkan nyaris tidak terdengar.tapi hati aku bisa merasakan kepedihan yang sangat dalam di hati dicky.
Besoknya adalah pesta perpisahan di sekolahku.tapi dari tadi aku gak lihat sosok dicky.perasaan kawatir pun muncul di hati aku.aku coba menghubungi ponselnya tapi gak aktif.aku telfon rumahnya pembantunya bilang dicky udah berangkat dari sejam yang lalu.astaga dia kemana.kenapa saat terakhir aku disini kamu malah gak ada dik.kamu dimana??sampai acara selesai dicky gak juga muncul di sekolah.aku berjalan pelan di koridor sekolahku.terbayang masa2 aku dengan dicky.tawa,canda,dan bahkan tangis menghiasi cinta terlarang kami.sayang kamu dimana…aku pengen meluk kamu untuk terakhir kalinya…..sampai di gerbang mama dan papa udah nunggu aku,aku harus berangkat ke singapore hari ini juga.aku menuju ke mobil sambil sesekali menoleh ke belakang berharap dicky datang menghampiri aku.tapi gak ada.aku masuk ke mobil.tapi pandangan ku tetap ke arah belakang.perlahan mobil aku mulai berjalan.belum lama mobil kami berjalan seperti ada yang memanggilku.”Dicky”seruruku 


“kamu kenapa grace..dicky siapa??”
“aku denger ada yang manggil aku mah”lalu aku menoleh ke belakang tapi gag ada siapa2 di sana.tapi hati aku yakin ada yang memanggilku dan itu suara dicky.aku gak mungkin salah.”gak ada siapa2 sayang”kata papa
Aku udah pasrah….mungkin Tuhan belum ijinkan aku bertemu dengan dicky…tapi aku berjanji pada diriku sendiri aku pasti kembali ke sini. 



***

2 tahun kemudian……..
aku mengambil cuti kuliah 1 bulan.dan memutuskan untuk pulang ke indonesia.aku kangen sama mama papa.dan yang pasti aku sangat merindukan dicky.seperti apa dia sekarang….senyumku mengembang membayangkan Wajah Dicky.gak sabar pengen langsung menemuinya.siang itu juga aku pamit sama mama mau pergi ke rumah vicka.sesampai di rumah vicka dia menyambut aku dengan kebawelannya yang khas.
“Gracee!!! Ya ampun kangen banget, kapan sampe sini kok gak kabar2 aku sihh..jahat banget,masuk dulu yuk” 


“iya iya tapi abis ini anterin aku ke tempat dicky yaa..”
Vicka terlihat kaget mendengar ucapan aku.perasaan ku mendadak gak enak.
“kenapa vick??kok kayaknya kamu kaget banget??”
“kita ceritanya di dalem aja yaaa”
sesampainya di dalem vicka suruh aku duduk di kamarnya.vicka kelihatan sangat serius.mau gak mau aku jadi semakin gak tenang 


“kenapa vik?ada apa sebenernya.dicky gak apa2 kan dia baik2 aja kan”
“Grace….maafin aku gak crita soal ini ke kamu.plis janji jangan marah”
“iya aku janji…”
Vicka mulai bercerita
“2 tahun yang lalu saat pesta perpisahan dicky gag bisa dateng ke pesta karena dia mau beliin kamu bunga tapi sayangnya dia malah kejebak macet..hapenya mati dan gak bisa hubungin kamu.saat kamu pulang selang beberapa menit aja dicky dateng dia lari ngejar mobil kamu.tapi mobil kamu terlanjur jauh.dicky teriakin nama kamu sekencang mungkin bahkan banyak yang lihat kejadian itu.lalu ada beberapa tukang ojek yang mangkal di depan sekolah.dicky minjem salah satu motor milik tukang ojek di situ buat ngejar kamu..tapii….”kata2 vicka terhenti.prsaan aku sangat gag karuan saat itu.”tapi apa vik?” 


“tapi naas dicky di tabrak truk dari arah samping grace…..”
“trus dicky gimana dia gak kenapa2 kan vik dia baik2 aja kan?”
“setelah kejadian itu dicky masih bisa bernafas grace.orang2 disitu bawa dia ke RS termasuk aku.aku nungguin dia sampai sadar.ayah dan ibunya gak ada yang dateng.sekitar 1 jam kemudian dokter keluar.dokter bilang dicky ingin ketemu aku”aku masuk ke kamar UGD.aku lihat nafas dicky udah tersengal2 grace.dia nitip tape recorder ini buat kamu.dia bilang aku harus jaga kamu.karena dia udah gak bisa lagi jaga kamu.setelah dia mengatakan hal itu.Nafasnya berhenti grace..Dicky udah gak ada.dia udah tenang di sana sayang….” 


Aku terdiam…tubuh aku jadi sangat lemas mendengar cerita vika.
“grace jangan diem aja kalo mau nangis, nangis aja gak apa2”
“DICKY!!!!!!!!!!kenapa secepat ini vick…aku belum bisa ngebahagiain diaa”aku nangis sejadi2nya.menyesal,dan kecewa kenapa di saat terakhir dicky aku gak ada di sampingnya….andai saja waktu itu aku bisa menunggunya sebentar saja pasti gak akan kayak gini jadinya.andai saja waktu aku mendengar suaranya aku mau berhenti! 


Aku menerima rekaman pemberian dicky dari vika.setelah itu vika mengantarkan aku pulang.
aku masuk ke kamarku.aku rebahkan tubuhku.aku ambil rekaman dari dicky.aku putar perlahan….ternyata itu adalah rekaman suaraku waktu di pantai di hari terakhir aku bertemu dengannya.aku dengarkan sampai selesai.saat kata2ku di dalam rekaman itu selesai aku meletakkan nya di dada ku.tapi ternyata masih ada suara lagi.ternyata dicky menambahkan isi rekaman itu denagn kata2nya. 


Dicky::Grace sayang….mungkin memang kisah cinta kita gak sesempurna yang kita inginkan.tapi kamu adalah yang tersempurna yang pernah aku miliki.aku mencintai kamu melebihi diriku sendiri.suatu saat nanti kalau kita ketemu mungkin kamu udah mengendong anak kamu dengan winston yang manis2.dan aku akan memandang kamu dari jauh sayang.aku ikut tersenyum untuk kebahagiannmu.I love You My Princess… 
Ya..Tuhan..penyeslan yang teramat dalam aku rasakan sekarang…..
Dicky…aku janji aku akan bahagia buat kamu.tenang di sisiNya ya sayang…..I love You My Soumate…..
3 tahun kemudian aku akhirnya menikah dengan Winston.kami di karuniai 2 anak….dan memutuskan untuk menetap di singapore.tapi dicky…selamanya kenangan akan dia tidak akan pernah hilang……
Love U Dicky….
The And

 
Penulis I Privacy Policy I Versi Mobile I Info Iklan I T.O.S I Daftar Isi
Copyright © 2011 - 2014 Blog Manis All rights reserved | Blogger.com
Desain : Cobainfo | Optimized by Blog Manis